vinext adalah framework React yang dirancang sebagai pengganti drop-in untuk Next.js. Artinya, ia berusaha mempertahankan API dan pola kerja yang sama seperti Next.js, sehingga developer tidak perlu belajar ulang dari nol.
Saya baru saja membaca tentang sebuah proyek bernama vinext, dan menurut saya ini salah satu eksperimen paling menarik di ekosistem React saat ini.
Bayangkan sebuah framework yang kompatibel dengan API Next.js, tetapi dibangun ulang dari nol menggunakan Vite — dan dikembangkan dengan bantuan AI hanya dalam waktu sekitar satu minggu.
Kedengarannya seperti eksperimen, tetapi hasil awalnya cukup menjanjikan.
vinext adalah framework React yang dirancang sebagai pengganti drop-in untuk Next.js. Artinya, ia berusaha mempertahankan API dan pola kerja yang sama seperti Next.js, sehingga developer tidak perlu belajar ulang dari nol.
Fitur-fitur yang didukung antara lain:
Yang membuatnya berbeda adalah fondasinya: vinext dibangun di atas Vite, bukan sistem build tradisional Next.js.
Selama ini, menjalankan aplikasi Next.js di berbagai lingkungan serverless sering membutuhkan adapter tambahan. Proses ini kadang rumit karena output build Next.js tidak selalu langsung cocok dengan target platform.
Pendekatan vinext berbeda.
Alih-alih menyesuaikan output setelah build selesai, vinext mengimplementasikan ulang API Next.js langsung di atas Vite. Dengan cara ini, hasil akhirnya lebih sederhana, lebih ringan, dan lebih sesuai dengan lingkungan modern berbasis edge/serverless.
Bagi saya, ini pendekatan yang lebih “bersih” secara arsitektur.
Hal yang paling menarik perhatian saya adalah performanya.
Karena menggunakan Vite, vinext mendapatkan beberapa keuntungan:
Dalam benchmark awal yang dibagikan, ukuran bundle klien bisa jauh lebih kecil dibandingkan implementasi standar Next.js pada contoh aplikasi yang sama.
Jika ini konsisten di berbagai skenario nyata, vinext bisa menjadi opsi serius untuk proyek yang mengutamakan performa dan efisiensi build.
Satu aspek yang menurut saya sangat menarik adalah bagaimana vinext dikembangkan dengan bantuan AI.
Bukan sekadar autocomplete atau asisten kecil, tetapi AI benar-benar digunakan untuk membantu membangun ulang fondasi framework dalam waktu yang sangat singkat.
Ini memberi gambaran tentang masa depan software engineering:
vinext mungkin bukan hanya eksperimen framework, tetapi juga eksperimen cara membangun software modern.
Saat ini, vinext masih dalam tahap awal dan bersifat eksperimental. Artinya, belum bisa langsung menggantikan Next.js di proyek besar tanpa pengujian mendalam.
Namun, sebagai proof of concept, proyek ini menunjukkan bahwa:
Bagi saya, ini lebih dari sekadar alternatif Next.js. Ini adalah sinyal bahwa ekosistem React masih terus berevolusi.
Saya melihat vinext sebagai eksperimen yang sangat menarik — baik dari sisi teknis maupun metodologi pengembangannya.
Apakah ia akan menjadi “Next.js killer”? Masih terlalu dini untuk mengatakan itu.
Tetapi satu hal yang jelas: vinext membuka diskusi baru tentang bagaimana seharusnya framework modern dibangun — lebih cepat, lebih ringan, dan lebih adaptif terhadap infrastruktur edge.
Saya pribadi penasaran bagaimana proyek ini akan berkembang dalam beberapa bulan ke depan.